Sebuah Pendekatan Untuk Memahami Islam (Chapter #5)

Bismillahirahmanirrahim, dengan ini saya lanjutkan terjemahan buku Dr. Ali Shariati yang berjudul "Sebuah Pendekatan Untuk Memahami Islam". Semoga bermanfaat.

***

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa ada beberapa cara yang berbeda untuk mengenal Islam. Salah satunya adalah mengenal Allah dan membandingkannya dengan konsep dewa lainnya. Atau, dengan cara membaca dan memahami Al Qur'an dan membandingkannya dengan buku-buku lain. Kita bisa mempelajari kepribadian Nabi Islam dan membandingkannya dengan kepribadian reformis lain yang telah ada sepanjang sejarah umat manusia. Atau, kita bisa mengenal dan memahami individu yang berbeda imannya dan membandingkannya dengan yang ada di agama lain.

Ini adalah tugas kaum intelektual saat ini untuk mengenal Islam sebagai sebuah keilmuan yang menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan, baik dari segi individual maupun masyarakat. Misi Islam adalah untuk mengarahkan masa depan kemanusiaan. Kaum intelektual harus melihat ini sebagai tugas tak tergantikan. Mereka perlu melihat baik di agama ini dan ke"luar biasa"an agama ini dari sudut apa pun di bidang studi mereka. Karena Islam memiliki dimensi dan manifestasi yang berbeda, semua orang dapat menemukan daerah baru yang berhubungan dengan diri mereka sendiri. Sebagai contoh, studi saya adalah sosiologi agama, saya mencoba untuk mengkompilasi semacam sosiologi agama berdasarkan Islam menggunakan istilah yang disimpulkan dan diperoleh dari isi Al-Qur'an. Dalam program studi saya, saya menemukan masalah baru yang tidak pernah saya bayangkan. Misalnya, sebagai hasil dari mempelajari Islam dan Qur'an, saya menemukan saran-saran ilmiah sejarah dan sosiologi yang mencerminkan kebiasaan Nabi. Hal inilah yang terjadi ketika kita mencoba untuk menganalisis dan menafsirkan Alquran sebagai filsafat atau ketika kita menggunakan ilmu pengetahuan hari ini untuk mempelajari kebijakan Nabi atau sistem politik, sosial, psikologis dan moral yang dia disajikan kepada masyarakat. Hal lain yg dapat saya simpulkan adalah bahwa banyak masalah baru dalam sejarah dan sosiologi ketika saya mempelajari Al Qur'an. Al-Qur'an dan Islam memberi saya ide tetapi, saya menemukan tema-tema baru yang berhubungan dengan sejarah, sosiologi dan ilmu-ilmu kemanusiaan. Setelah beralih ke hal ini, saya melanjutkan penelitian dan saya menjadi yakin bahwa saya telah menyadari sesuatu yang penting. Melalui bantuan Al-Qur'an, saya telah menemukan beberapa masalah penting dalam ilmu manusia yang saat ini bahkan tidak dibahas. Salah satunya adalah pertanyaan tentang migrasi. Dalam kuliah saya yang berjudul 'Muhammad, Penutup para nabi,' pertanyaan itu dianggap semata-mata dari sudut pandang sejarah sebagai migrasi suatu suku dari satu tempat ke tempat lain. Saya telah menemukan bahwa migrasi sebetulnya kebalikan dari pendapat kebanyakan kaum Muslim ketika membaca Al-Qur'an. Setelah membaca tentang migrasi dan Muhajirin, [orang-orang yang menyertai Nabi dari Mekah ke Madinah] kehidupan dari Nabi dan utamanya, migrasi pada awal Islam. Itu bukanlah kecelakaan dalam sejarah atau suatu kebetulan. Kaum muslim menduga bahwa migrasi yang terjadi terdiri dari sekelompok orang yang dilarang berada di Mekah dan kemudian diperintahkan oleh Nabi untuk pergi ke Ethiopia dan Madinah. Migrasi, dalam istilah sejarah, dianggap proses perpindahan suku primitif dari satu tempat ke tempat lain karena penyebab geografis atau politik. Islam menganggap itu menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dan mempengaruhi kehidupan Islam dan Nabi Islam.

Migrasi merupakan prinsip filsafat dan sosial yang mendalam. Dengan mengacu pada sejarah, saya menemukan bahwa migrasi merupakan prinsip yang sangat penting dan luar biasa maknanya. Hal ini tidak sesederhana seperti apa yang sejarawan lihat. Bahkan filsuf sejarah belum memperhatikan alasan tentang migrasi. Apa yang ingin saya katakan sekarang adalah bahwa migrasi telah menjadi faktor yang mempengaruhi seluruh sejarah.

Dua puluh tujuh peradaban yang kita tahu secara historis, hasil dari migrasi. Tidak ada satu pengecualian untuk hal ini. Menurut catatan, sebuah suku primitif menjadi beradab dan akan menciptakan budaya yang lebih tinggi hanya ketika pindah dari tempatnya, ketika bermigrasi dari tanah tempat tinggalnya.

Saya telah menyimpulkan hal ini. Tidak ada referensi untuk hal ini dalam sejarah atau sosiologi. Kesimpulan saya datang dari Islam, dari subjek migrasi seperti yang diungkapkan dalam Al-Qur'an sebagai referensi untuk itu yang menunjukkan sebuah sistem yang berkelanjutan.

Semua peradaban dunia, dari yang paling terakhir, yaitu, Amerika, sampai yang tertua, yang Sumeria, telah terbentuk melalui migrasi. Ini menunjukkan bahwa suku primitif tetap primitif jika menetap di tanah sendiri. Begitu migrasi terjadi dan mereka menetap di tanah baru, maka mereka mencapai sesuatu yang disebut peradaban. Jadi, semua peradaban adalah hasil dari migrasi suku-suku primitif.

Ada banyak pertanyaan yang lebih mudah saya pahami melalui Al-Qur'an. Banyaknya jumlah informasi yang terkandung di dalamnya telah membantu saya untuk lebih memahami masalah-masalah historis dan sosiologis dan melihat mereka dalam cahaya baru. Dengan cara ini, kita dapat menemukan begitu banyak metode pendekatan yang dapat diterapkan pada ilmu-ilmu terbaru, ilmu-ilmu manusia.

Masalah terbesar dalam sejarah dan sosiologi, khususnya sosiologi Islam, adalah menemukan penyebab utama perubahan masyarakat. Apa faktor utama yang menyebabkan masyarakat berubah dan melakukan perubahan atau tiba-tiba menggulingkan penguasa dan meakukan kerusakan? Faktor apa yang menyebabkan masyarakat sampai pada mutasi positif sehingga dalam satu atau dua abad bentuk fisik dan spiritual dari masyarakat dapat berubah dan menyebabkan semua hubungan individu dan sosial juga berubah? Ini adalah masalah yang telah berlangsung selama berabad-abad. Selama 110 tahun terakhir, hal ini selalu dibahas dengan hati-hati dalam studi sosiologis dan historis. Pertanyaan yang selalu disajikan adalah "Apakah motor sejarah dan faktor fundamental untuk perubahan dan transformasi masyarakat manusia?"

Kembali!

Alhamdulillah, atas berkah dan rahmat dari Allah gua mampu menjalani kewajiban ibadah haji. Rasa haru dan bahagia mungkin gak tergambarkan ketika menyelesaikan tahap demi tahap ibadah yang paling indah ini, namun ketika akan berpisah dengan tempat-tempat indah tersebut gua gak bisa menahan sedihnya kenyataan bahwa gua gak bisa berlama-lama disitu. Di setiap tempat ada cerita antara gua dan tempat tersebut, dan satu hal yang gua bisa katakan adalah gua harus menjadi pribadi yang baru, yang lebih baik, yang lebih beriman, yang lebih cerdas dan lebih bijaksana dalam bertindak. Semoga suatu saat ada rezeki untuk kembali mengunjungi sudut-sudut tempat gua "mengadu" untuk kembali mengintrospeksi diri lagi. InsyaAllah.

Ya Allah, jadikan Sa'i dalam setiap pagi dan siangku, Arafah dalam setiap soreku, Masy'ar al-Haram dalam setiap malamku dan Tawaf dalam setiap panggilan adzanMu.

Recent story of my life

And so...

Alhamdulillah gua sejauh ini berhasil untuk menerjemahkan setengah dari buku Dr. Ali Shariati yang berjudul "An Approach to Understand Islam" yang sekarang gua breakdown menjadi beberapa chapter. Selagi gua menerjemahkan bukunya, gua jadi lebih fokus dalam membaca dan yang bisa gua simpulkan sejauh ini adalah ternyata Dr. Ali Shariati menerapkan metode yang unik untuk mengenal Allah, tapi jujur cara ini benar-benar mengena, gua serasa baru mengenal Tuhan gua, baru mengerti agama gua dan gua merasa baru mengenal diri gua sendiri, gua seolah-olah muallaf.

Mungkin bisa dibilang sentimen, tapi ketika tahiyat akhir sholat gua ngerasa baru masuk ke dalam Islam dan gua rasa gua harus lebih banyak belajar tentang hidup dan agama.

Dalam bulan ini mungkin gua bakal menunda agenda untuk menerjemahkan sisa buku "An Approach to Understand Islam", karena tanggal 5 Oktober ini gua bakal berangkat, ke sana, ke rumahNya. Gua gak berani untuk mengatakan bahwa gua telah "terpanggil", gua gak tau harus menamakan apa perjalanan ini.

Haji, suatu perjalanan akbar yang diceritakan dalam keindahan yang begitu rupa dalam buka Dr. Shariati. Apapun itu, akan gua laksanakan rukun yang kelima ini, akan gua coba mengerti keindahan agama ini dari sejarah yang dijadikan ibadah ini. Gua akan mencoba untuk membuat jurnal selama perjalanan Haji besok yang mungkin akan gua muat di blog ini. Pokoknya banyak rencana besar untuk perjalanan besar ini dan gua harap Allah memberikan gua kemampuan untuk menjalankan haji ini dengan benar dan memberikan gua pintu taubatnya dan membuka pemikiran gua untuk bisa berubah, untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga keinginan gua tercapai.

Mabrur? Itu tidak bisa dipastikan, tapi gua berharap gua bisa belajar banyak hal dan mengerti banyak hal tentang agama yang paling indah di dunia ini selama perjalanan berlangsung. Dan yang pasti gua berharap mengalami perubahan di banyak sisi dari diri gua sehingga gua bisa menjadi lebih baik.

Dan disini gua berterimakasih kepada Allah yang telah membuka hati gua untuk melihat Haji dari sisi yang lebih indah dengan membaca buku Dr. Ali Shariati yang diberikan melalui bantuan abang gua.

Hai blogku yang telah menjadi buah pikiranku selama beberapa tahun, aku akan pergi, sampai jumpa dalam 1 bulan ke depan, dan doakan agar aku bisa menuliskan tulisan yang baik di dalam dirimu.

Labbaika ya Allah! Labbaika!

Sebuah Pendekatan Untuk Memahami Islam (Chapter #4)

Untuk memiliki pengetahuan yang benar pada kasus khusus ini, kita harus merujuk pada Al Qur'an, kata-kata Nabi atau para pengikut khusus dilatih oleh Nabi. Kualitas-kualitas yang baik dibedakan dalam Al-Qur'an atau disebutkan dalam kata-kata Nabi dan para pengikutnya di mana mereka membandingkan Allah dengan Tuhan yang dipahami dalam agama-agama lain seperti Ahuramazda, Yahwa, Zeus, dan sebagainya. Tahap kedua adalah untuk mengetahui apa sebenarnya Al Qur'an? Buku apa itu? Masalah apa yang dibahas didalamnya? Apakah itu berbicara lebih tentang kehidupan di bumi ini atau kehidupan setelah kematian? Apakah itu lebih ditujukan ke masalah individu dan moral atau aspek sosial? Apakah itu merujuk lebih ke materi atau spiritual? Apakah itu sifat yang lebih terakomodir atau secara individu? Yang paling utama adalah : Apa masalah yang dipertimbangkan dan dalam bentuk apa?

Sebagai contoh, dalam membuktikan keberadaan Allah, sebuah ayat memberitahu kita, "Marilah kita memurnikan jiwa kita untuk mengenal Allah." Dengan mempelajari materi apa yang akan kita mendapatkan keintiman dan tahu ihwal? Atau, keduanya diperlukan cara? Kita juga harus membandingkan Al Qur'an untuk teks-teks agama lain seperti Alkitab, Veda, Avesta dan sebagainya. Tahap ketiga untuk datang untuk mengenal Islam adalah untuk mengetahui Muhammad, putra Abdullah, sebagai Nabi agama ini. Mengetahui Nabi Islam adalah penting bagi sejarawan, karena di matanya, tidak ada orang lain yang pernah memiliki tanggung jawab yang Nabi Islam telah di acara terbatas kekuasaannya yang berlangsung.

Ketika kita berbicara tentang kepribadian Nabi Islam, tujuan kita adalah untuk mempertimbangkan baik bagaimana ia mengorientasikan dirinya terhadap kemanusiaan serta hubungannya dengan Tuhan. Dengan kata lain, kita harus merenungkan baik dimensi manusia dan misi kenabiannya.

Sebagai contoh, dalam mempertimbangkan dimensi manusia, kita harus mempelajari caranya berbicara, berjalan, berpikir, tertawa, duduk dan tidur. Kita harus menyadari hubungan-Nya dengan orang asing, musuh, teman dan keluarga. Juga, itu kekalahan, kemenangan dan reaksinya terhadap masalah sosial, semua hal tersebut harus ditinjau.

Jadi, salah satu cara penting untuk mengetahui Kebenaran, jiwa dan realitas utama Islam, adalah untuk mengetahui Nabi dan membandingkan dirinya dengan arsitek agama lain dan nabi seperti Musa, Yesus, Zoroaster dan Buddha.

Tahap keempat adalah untuk mempelajari kualitas penampilan Nabi Islam. Bagaimana, misalnya, apakah ia muncul tanpa perkenalan? Apakah ada yang menunggunya? Apakah dia tahu apa misi Nabi-Nya? Sebuah kekuatan yang tiba-tiba datang kepadanya dan perubahan cara dia berbicara atau kepribadiannya dengan cara yang sulit baginya untuk menanggung di awal kenabiannya. Apa gerakan yang mewakili penampilannya? Di kelas masyarakat yang seperti apa dia cenderung lebih bergaul? Dan di tingkat mana dia bangkit untuk berperang?

Jawaban ini akan membantu kita dalam mengetahui nabi Islam dan juga dalam mengetahui kualitas manifestasi mereka. Jika kita membandingkan kualitas manifestasi Nabi Islam dengan nabi-nabi lainnya, positif atau negatif, seperti Ibraham, Musa, Zoroaster, Konfusius, Buddha, dan sebagainya, kita akan tiba pada kesimpulan yang luar biasa.

Semua nabi, dengan pengecualian dari tradisi Ibrahim, mengakui kekuasaan yang ada pada waktu itu dan mencapai misi mereka dengan bantuan kekuatan itu, sedangkan nabi Ibrahim, dari nabi Ibraham sampai Nabi Islam, muncul dalam bentuk pemberontakan terhadap kekuasaan yang ada.

Begitu Ibraham muncul, dia mulai merusak berhala satu per satu. Ia memukul berhala terbesar dan mengumumkan penentangannya terhadap politeisme.

Tindakan pertama dari Musa, yang mengenakan pakaian seorang gembala dengan tongkat di tangan, adalah masuk ke pengadilan Firaun dan mengumumkan penentangannya terhadap Firaun mendukung menyatukan umat-Nya. Yesus memulai perjuangannya dengan ulama Yahudi karena para ulama terhubung dan menerima kebijakan dari Roma.

Begitu rantai misi kenabian sampai Nabi Muhammad, ia memulai perjuangan dengan aristokrasi, pemilik budak, tuan tanah dari Taif dan para pedagang Quraisy. Perbandingan akan membantu kita untuk mengenal kebenaran, semangat dan arah dari agama-agama.

Tahap kelima untuk mengetahui Islam adalah dengan mempelajari individu-individu yang membentuk komponen yang dibangun secara jelas.

Jika kita memilih untuk belajar Harun dalam tradisi Yahudi, St Paulus dalam tradisi Kristen dan Ali atau Hosein dalam tradisi Islam, sebagai contoh dari agama mereka, masing-masing agama akan menjadi kita ketahui. Mengetahui orang-orang secara jelas dan ilmiah akan seperti mengakui pabrik melalui barang yang dihasilkannya karena agama adalah seperti sebuah pabrik yang membangun orang.

Kali ini Hosein kita ambil sebagai contoh yang berbeda dari agama Islam. Apa sebutan bagi seseorang yang percaya pada Tuhan, Al-Qur'an dan Nabi sejenisnya? Kehidupan Hosein jelas. Prinsip-prinsipnya jelas dan kepekaannya terhadap masalah sosial dan nasib orang-orang sangatlah jelas dari karyanya dan pengorbanan dirinya. Hal ini membuktikan bahwa jika kebenaran, tujuan dan keyakinan yang terancam punah, semua hubungan akan hancur. Selain mengetahui kehidupan dan pikiran Hosein dan kualitas nya, maka kita bisa membandingkannya dengan Ibnu Sina atau Hallaj yang sama-sama Muslim, yang dipengaruhi oleh filsafat Iran dan yang lainnya oleh tasawuf. Perbandingan dari ketiga orang tersebut akan membantu kita menjadi sadar akan perbedaan dan persamaan antara filsafat, tasawuf dan Islam.

Ibnu Sina adalah seorang filsuf-ilmuwan dan jenius, yang memberikan kehormatan besar untuk ilmu pengetahuan dan filsafat Islam. Tapi manusia yang hebat ini, sayangnya, mencekik dirinya sendiri dalam poin sastra dan filsafat dan ketika datang ke masyarakat, ia dengan mudah melayani struktur kekuasaan yang ada. Dia tidak menunjukkan reaksi terhadap nasib kemanusiaan dan masyarakatnya. Sebenarnya, ia merasa ada hubungan antara nasib dan orang lain. Tugasnya hanya untuk penelitian masalah ilmiah dan tidak ada bedanya baginya bagaimana hidupnya lewat. Dia tidak membuat pembedaan seperti kepada golongan yang mendukung dia atau kepada golongan yang menawarkannya posisi. Ini adalah semua sama baginya. Dia tidak memiliki sudut pandang yang khusus. Hallaj terbakar dan dibakar. Dia tidak memiliki tanggung jawab, hanya berteriak dan terbakar. Apa yang membakarnya? Ia memegang kepalanya di antara kedua tangannya dari kasih Allah dan berjalan melalui jalan-jalan Baghdad sambil menangis, "Pemberontakan telah mengambil alih diriku. Lepaskan aku dari api yang membakar dalam diriku. Aku bukan apa-apa. Akulah Allah, "yang artinya," Aku bukanlah aku karena segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah penciptaan Allah." Dia konsisten tenggelam ke dalam api dari memori Allah yang paling jelas di dalam dirinya di stasiun itu. Tapi bagaimana jika masyarakat Iran terdiri dari 25 juta Hallajs? Ini akan menjadi seperti rumah sakit jiwa ketika mereka semua bergegas ke jalan berteriak, 'Bunuh aku! Bunuh saja aku cepat! Saya tidak dapat menanggungnya! Aku punya apa-apa! Tidak ada dalam diriku, selain cinta Allah." Pembakaran tersebut adalah salah satu dari jenis kegilaan spiritual. Jika semua individu dari masyarakat berubah menjadi Hoseins atau Abuzars, maka akan ada kehidupan dan akan ada kebebasan. Akan ada pengetahuan dan belajar serta daya dan stabilitas; musuh akan dihancurkan dan yang tetap ada di dunia ini adalah cinta kepada Tuhan.