Sebuah Pendekatan Untuk Memahami Islam (Chapter #1)

Bismillah, dengan ini saya mulai proyek terjemahan buku Dr. Ali Shariati yang Berjudul "An Approach to Understanding Islam". Semoga dapat dimengerti dan bermanfaat.
***
Pelajaran kali ini adalah tentang salah satu dari bermacam pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui Islam. Hal ini menjadi konsep keilmuan yang penting untuk meninjau kembali pendekatan ganda untuk memahami sesuatu dalam rangka untuk sampai pada metodologi tertentu yang dalam kasus ini adalah untuk dapat mengenal Islam.

Pencapaian pada sebuah metodologi dalam sebuah pendekatan untuk memahami sebuah masalah adalah aspek yang penting dalam sebuah metode penelitian. Memiliki metode yang benar untuk menemukan kebenaran adalah pokok persoalan yang lebih penting daripada memiliki kemampuan dalam bidang filosofi, sains ataupun bakat lainnya.

Kita mengetahui bahwa Eropa mengalami masa stagnan selama ratusan tahun pada abad pertengahan. Meskipun begitu, berakhirnya masa stagnan mengembangkan momentum revolusioner pada bidang ilmu pengetahuan, seni dan literatur yang mana merupakan bidang sosial dan kemanusiaan. Dan setelah beberapa saat, pergerakan ini, revolusi pemikiran ini menjadi dasar dari peradaban dan budaya dunia saat ini. Sekarang kita harus berhenti dan bertanya pada diri sendiri bagaimana Eropa yang stagnan ratusan tahun dapat berubah arah dan menemukan kebenaran secara tiba-tiba?

Hal ini merupakan pertanyaan terpenting dan mungkin pertanyaan tersulit terjawab bagi dunia ilmu pengetahuan.

Di sisi lain, sudah tidak dapat diragukan lagi banyaknya faktor perbedaan yang menyebabkan stagnansi di abad pertengahan dan di sisi lain, ada bermacam-macam faktor yang tiba-tiba membangunkan bangsa Eropa dan membimbing mereka menuju pergerakan dan pembangunan yang dinamis.

Pada titik ini, harus diingat bahwa faktor penting yang menyebabkan stagnansi pemikiran, peradaban dan budaya bangsa Eropa selama ratusan tahun pada abad pertengahan merupakan metode analogi Aristotle. Ketika cara untuk melihat hal dan masalah sudah berubah, maka ilmu pengetahuan, masyarakat dan dunia juga ikut berubah dengan disertai kehidupan manusia. Disini kita berbicara tentang budaya, pemikiran dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Inilah sebabnya kenapa kita melihat perubahan dalam pendekatan sebagai faktor utama pada pergerakan ini. Ini juga benar bahwa penyebab perubahan tersebut tergantung dari sudut pandang sosiologis. Pergerakan dari feodalis menjadi sistem bourgeoisie dan hal itu sendiri dikenal karena telah membuka dinding pertahanan antara bangsa Islam di timur dan bangsa Kristen di barat yang dalam hal ini melalui Perang Salib. Sebuah pendekatan sangatlah sensitif terkait dengan perkembangan atau juga penentuan. Bukanlah seorang genius yang menilai masalah dari penyebab stagnansi, apatisme ataupun gerakan dan perkembangan, tapi metodologi yang digunakanlah yang penting. Pada abad ke-5 dan ke-4 sebelum masehi, keberadaan orang-orang jenius tidak dapat dibandingkan dengan orang-orang jenius pada abang 14, 15 dan 16 setelah masehi. Tidak dapat diragukan lagi bahwa Aristotle lebih genius dibandingkan Francis Bacon dan Plato lebih genius daripada Roger Bacon. Tapi bagaimana bisa orang tersebut, yang lebih rendah tingkat kegeniusannya dapat meletakkan pondasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan, dimana mereka sebelumnya menyebabkan stagnansi di abad pertengahan? Bagaimana bisa orang jenius menyebabkan stagnansi di dunia dimana rata-rata dari mereka memberikan kontribusi untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan kesadaran manusia?

Alasannya adalah karena orang jenius yang kedua ini menemukan cara yang benar dalam berpikir dan metodologi. Dengan cara ini, rata-rata pemikiran dapat menemukan kebenaran, bukanlah orang jenius yang tidak dapat mengetahui cara yang benar dalam menyelesaikan masalah dan membenarkan cara berpikir serta tidak dapat menggunakan kejeniusannya secara efektif.

Inilah mengapa kita dapat melihat banyak jenius hadir selama peradaban Yunani pada abad ke 5 dan ke 4 sebelum masehi, kejeniusannya mempengaruhi sejarah kemanusiaan. Mereka berkumpul di Atena namun tidak satu penemuan dihasilkan disitu, dimana sekarang ini bangsa Eropa sebagain besarnya merupakan tekniksi yang tidak dapat merasakan kata-kata bijak Aristotle, namun telah mempatenkan ratuan temuannya. Contoh yang luar biasa adalah Thomas Edison yang kemampuan filosofinya tidak sampai sepetiga kemampuan murid Aristotle, namun jauh lebih berkontribusi dalam menemukan hukum alam dan mampu menciptakan dunia industri dengan ratusan temuannya yang telah paten, dia lebih berkontribusi daripada Aristotle dan murid-muridnya yang berpikir selama 2400 tahun.

0 comment: