Bismillahirahmanirrahim, dengan ini saya lanjutkan terjemahan buku Dr. Ali Shariati yang berjudul "Sebuah Pendekatan Untuk Memahami Islam". Semoga bermanfaat.
***
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa ada beberapa cara yang berbeda untuk mengenal Islam. Salah satunya adalah mengenal Allah dan membandingkannya dengan konsep dewa lainnya. Atau, dengan cara membaca dan memahami Al Qur'an dan membandingkannya dengan buku-buku lain. Kita bisa mempelajari kepribadian Nabi Islam dan membandingkannya dengan kepribadian reformis lain yang telah ada sepanjang sejarah umat manusia. Atau, kita bisa mengenal dan memahami individu yang berbeda imannya dan membandingkannya dengan yang ada di agama lain.
Ini adalah tugas kaum intelektual saat ini untuk mengenal Islam sebagai sebuah keilmuan yang menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan, baik dari segi individual maupun masyarakat. Misi Islam adalah untuk mengarahkan masa depan kemanusiaan. Kaum intelektual harus melihat ini sebagai tugas tak tergantikan. Mereka perlu melihat baik di agama ini dan ke"luar biasa"an agama ini dari sudut apa pun di bidang studi mereka. Karena Islam memiliki dimensi dan manifestasi yang berbeda, semua orang dapat menemukan daerah baru yang berhubungan dengan diri mereka sendiri. Sebagai contoh, studi saya adalah sosiologi agama, saya mencoba untuk mengkompilasi semacam sosiologi agama berdasarkan Islam menggunakan istilah yang disimpulkan dan diperoleh dari isi Al-Qur'an. Dalam program studi saya, saya menemukan masalah baru yang tidak pernah saya bayangkan. Misalnya, sebagai hasil dari mempelajari Islam dan Qur'an, saya menemukan saran-saran ilmiah sejarah dan sosiologi yang mencerminkan kebiasaan Nabi. Hal inilah yang terjadi ketika kita mencoba untuk menganalisis dan menafsirkan Alquran sebagai filsafat atau ketika kita menggunakan ilmu pengetahuan hari ini untuk mempelajari kebijakan Nabi atau sistem politik, sosial, psikologis dan moral yang dia disajikan kepada masyarakat. Hal lain yg dapat saya simpulkan adalah bahwa banyak masalah baru dalam sejarah dan sosiologi ketika saya mempelajari Al Qur'an. Al-Qur'an dan Islam memberi saya ide tetapi, saya menemukan tema-tema baru yang berhubungan dengan sejarah, sosiologi dan ilmu-ilmu kemanusiaan. Setelah beralih ke hal ini, saya melanjutkan penelitian dan saya menjadi yakin bahwa saya telah menyadari sesuatu yang penting. Melalui bantuan Al-Qur'an, saya telah menemukan beberapa masalah penting dalam ilmu manusia yang saat ini bahkan tidak dibahas. Salah satunya adalah pertanyaan tentang migrasi. Dalam kuliah saya yang berjudul 'Muhammad, Penutup para nabi,' pertanyaan itu dianggap semata-mata dari sudut pandang sejarah sebagai migrasi suatu suku dari satu tempat ke tempat lain. Saya telah menemukan bahwa migrasi sebetulnya kebalikan dari pendapat kebanyakan kaum Muslim ketika membaca Al-Qur'an. Setelah membaca tentang migrasi dan Muhajirin, [orang-orang yang menyertai Nabi dari Mekah ke Madinah] kehidupan dari Nabi dan utamanya, migrasi pada awal Islam. Itu bukanlah kecelakaan dalam sejarah atau suatu kebetulan. Kaum muslim menduga bahwa migrasi yang terjadi terdiri dari sekelompok orang yang dilarang berada di Mekah dan kemudian diperintahkan oleh Nabi untuk pergi ke Ethiopia dan Madinah. Migrasi, dalam istilah sejarah, dianggap proses perpindahan suku primitif dari satu tempat ke tempat lain karena penyebab geografis atau politik. Islam menganggap itu menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dan mempengaruhi kehidupan Islam dan Nabi Islam.
Migrasi merupakan prinsip filsafat dan sosial yang mendalam. Dengan mengacu pada sejarah, saya menemukan bahwa migrasi merupakan prinsip yang sangat penting dan luar biasa maknanya. Hal ini tidak sesederhana seperti apa yang sejarawan lihat. Bahkan filsuf sejarah belum memperhatikan alasan tentang migrasi. Apa yang ingin saya katakan sekarang adalah bahwa migrasi telah menjadi faktor yang mempengaruhi seluruh sejarah.
Dua puluh tujuh peradaban yang kita tahu secara historis, hasil dari migrasi. Tidak ada satu pengecualian untuk hal ini. Menurut catatan, sebuah suku primitif menjadi beradab dan akan menciptakan budaya yang lebih tinggi hanya ketika pindah dari tempatnya, ketika bermigrasi dari tanah tempat tinggalnya.
Saya telah menyimpulkan hal ini. Tidak ada referensi untuk hal ini dalam sejarah atau sosiologi. Kesimpulan saya datang dari Islam, dari subjek migrasi seperti yang diungkapkan dalam Al-Qur'an sebagai referensi untuk itu yang menunjukkan sebuah sistem yang berkelanjutan.
Semua peradaban dunia, dari yang paling terakhir, yaitu, Amerika, sampai yang tertua, yang Sumeria, telah terbentuk melalui migrasi. Ini menunjukkan bahwa suku primitif tetap primitif jika menetap di tanah sendiri. Begitu migrasi terjadi dan mereka menetap di tanah baru, maka mereka mencapai sesuatu yang disebut peradaban. Jadi, semua peradaban adalah hasil dari migrasi suku-suku primitif.
Ada banyak pertanyaan yang lebih mudah saya pahami melalui Al-Qur'an. Banyaknya jumlah informasi yang terkandung di dalamnya telah membantu saya untuk lebih memahami masalah-masalah historis dan sosiologis dan melihat mereka dalam cahaya baru. Dengan cara ini, kita dapat menemukan begitu banyak metode pendekatan yang dapat diterapkan pada ilmu-ilmu terbaru, ilmu-ilmu manusia.
Masalah terbesar dalam sejarah dan sosiologi, khususnya sosiologi Islam, adalah menemukan penyebab utama perubahan masyarakat. Apa faktor utama yang menyebabkan masyarakat berubah dan melakukan perubahan atau tiba-tiba menggulingkan penguasa dan meakukan kerusakan? Faktor apa yang menyebabkan masyarakat sampai pada mutasi positif sehingga dalam satu atau dua abad bentuk fisik dan spiritual dari masyarakat dapat berubah dan menyebabkan semua hubungan individu dan sosial juga berubah? Ini adalah masalah yang telah berlangsung selama berabad-abad. Selama 110 tahun terakhir, hal ini selalu dibahas dengan hati-hati dalam studi sosiologis dan historis. Pertanyaan yang selalu disajikan adalah "Apakah motor sejarah dan faktor fundamental untuk perubahan dan transformasi masyarakat manusia?"
0 comment:
Post a Comment